Ia
Aku mengizinkan engkau ada di dalam hatiku, tapi mengapa engkau tak mengizinkan aku ada dalam hatimu. Sebab apakah cinta tak menuai rasa pada jalan ini, sedang kita pernah menikmati rindu memburu keduanya. Jika ini kesalahan, siapa diantara kita yang menaburnya ?
Kau memburuku sampai ubun-ubun, hingga tak kau sisakan waktu untuk mengatakan kata-kata ini. Saat ini kita tak lagi menyapa satu sama lainnya, tanpa kabar atau pun pesan ringkas yang berkias hari dengan berbagi senyum. Cintakah ini ? Mana kala berjauhan dan mengasingkan rasa pada selubung sua. Atau kau tak merasakan sama sekali tentang ini ?
Aku harap pesan ini diterbangkan angin padamu, hingga pada suatu waktu kau tahu ini sudah terlambat. Menggamitkan cinta di ujung kepala sama halnya berhenti memikirkanmu, ya, aku berhasil melupakanmu, keberadaan dan kabar yang tak lagi kudengar. Kau puas ? Jika mata adalah jembatan kejujuran, maka aku ingin kau melihatku tanpa keduanya. Sebab, dua sampai tiga tanya akan terusung dan berbijak lagi untuk berirama.
Usutkan semuanya, anggap kita tak pernah saling mengenal. Aku tetap menjadi aku dan kau tetap menjadi asing bagiku. Begitu mudah untuk menyisakan berkas ini, bahkan membuangnya seketika adalah kemauanmu. Jika benar cinta itu buta, bisakah kau menatapku tanpa air mata ?
Tentu kau tahu dengan hal ini dan kau lebih memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Aku tak menafikkan keputusanmu dengan tak mengindahkan bunga. Bunga yang sengaja tumbuh membiak di dasar halaman jiwa. Perih ? Tentu sama halnya dengan yang kau rasakan. Sakit ? Tidak, aku tersenyum. Dengan membalik-balikkan bilah kaca ini aku dapat melihatmu dengan darah.
Ini bukan birama yang dapat kau ketuk dengan mudah nadanya, ini hati yang lama kusisihkan hanya untukmu, bukan yang lain. Mengerti ? Kau anggap aku ini apa ? Seenaknya saja kau jabatkan tangan untuk berpisah. Bukankah rasa itu sama-sama dinikmati ?, lalu mengapa pula harus berdusta ? salah ?
Ini terakhir kalinya pintu beserta celahnya kubuka untukmu, jika tidak, jangan kau sesalkan lagi puan. Sekiranya kau berbalik dan memintaku mengulangnya, itu takkan mengubah apapun ia !
Berbulan-bulan kau sia-siakan waktumu, berjam-jam kau buang pikiranmu hanya untuk menanya bagaimana kabarku. Lalu, setelah aku mengerti dan mengatakan cinta. Kau rubah rumus arimatikamu dengan menyebutkan jumlah tak sepadan. Mengapa harus aku ?
Biar semua tahu, walau langit dan bumi meolak ku, aku tetap mengatakan aku cinta kepadamu. Apakah aku harus mati terlebih dahulu, baru kau mengatakan kejujuranmu ? Tentu ini bukan telenovela atau picisan drama yang dapat kau ton-ton. Ini antara aku dan kamu ia.
Tak apalah, kelak jika kau terbangun jangan menangis kekasihku. sebab air tergadang mengerti, ia mengaliri persinggahanmu dan melinangkan sesal paling dangkal. Tutup usiamu saja dipangkuanku, selebihnya nikahlah dengan bintang atau jagad raya sekalian, agar kau tahu; sejauh manapun elang terbang, tetap aku ada dalam khasah ruangmu yang maha dahsyat.
Waktu yang mengizinkan semuanya, pertemuan, perbincangan sampai manakala cerita yang tak pantas dilukis awan.
Terlambat ia, setelah pecah urat nadi kau jemput aku, jelas tak berguna lagi. Karena kau dan aku yakin, kita akan bersua pada cincin yang berbeda. Lain hal ketika meminta hujan ia.
Tetapi janjimu, penuhi takdirmu dan aku adalah tujuan itu. Kelak ia !
Persinggahan,
Jum'at, 7/12/12, coklat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar