Petik
Pernah aku ingin memetik mawar, sayang ia layu dan kering sebelum ku singgahi.
Pernah juga ingin ku petik bintang, malah senar gitar yang menuainya. "Ah, ini kali tak boleh memetik". Aku pikir memang harus begitu, lalu boleh aku melihatmu?
Seorang kecil bernama mungil, menangis tersedak ditinggal ibu, lalu setelah besar tersenyum memetik senja, apakah ibu juga pernah memetik?
Ya, aku yakin setiap kita pasti memetik benih yang dituai masing-masing. Apa yang kau petik?
Jika hari ini aku menanam bunga dan beberapa waktu kemudian kembang, boleh aku memetiknya?
"Tentu tidak", kata ibu. Kau hanya bersimpati, ia tumbuh dan mekar karena Pencipta, bukan karena tanganmu, ya ia seperti itu melalui penjagaanmu. Begitupun engkau anakku, aku mengandung, menimang dan mengecupmu karena aku simpati, tetapi memetik jerih payahmu bukanlah tujuanku. Ya selagi bunga itu kau rawat dan jaga, maka ia menghadiahkan kembangnya yang ranum, bukan untuk kau petik. Tetapi untuk dinikmati, dirawat dan dipelihara. Jika kau suka pada seorang gadis, jangan kau petik sarinya, karena cinta tidak dipetik, cinta itu simpati anakku. Simapti itu ikut merasakan seperti pagi yang menjaga isinya, seperti malam yang melelapkan isinya, seperti air yang menyejukkan dedaunan, seperti egkau yang merajut benang untuk sebuah keputusan.
Bu! Ada tidak kumbang yang tidak mengisap madu, sementara dahaga mereka adalah madu?
Tidak anakku, setiap kumbang tentu berteman dengan sarinya, itu kodrat namanya. Engkau bukan kumbang, aku bukan bunga, yang ada adalah tuai seperti padi. Sepeti aku menanam benih di sawah, ia tumbuh dan tunduk pada aturan alam sehingga wajib baginya menguning jika kita bersimpati padanya. Apa yang kau makan,sama seperti apa yang aku makan. Hanya terkadang kita tak sadar akan simpati. Makanya banyak diantara kita mengartikan cinta adalah memetik.
"Petik tidak sama dengan jemari, bukan gunting atau tanda diantara kata"
Maka simpati kata ibu adalah kasih sayang yang turut hadir bersama, seperti ayah dan ibu yang turut menyayangi sikecil dari benih pernikahan tentunya. Lalu bu! apakah aku juga seperti ibu?
Tentu anaku, itu namanya metamorfosis. Dimana kita yang harus menyesuaikan perubahan, bukan waktu yang harus kita tuntut untuk sesuai dengan kita. Akhlah, etika, moral dan amal adalah pengajaran. Seperti setiap ibu yang mengajarkan senyum pada anak-anaknya, meskipun ia menangis untuk memahaminya. Ibu mengerti, setipa ibu tahu anaknya. Maka setiap keindahan lahir dari seorang gadis; senyum, liriknya, jemarinya, bahkan sampai keriput menutupi lesung pipitnya anakku.
Dan yang meminta bukanlah kumbang, tetapi keadaan yang membuat kau menilainya baik atau buruk.
Kalau begitu, boleh aku bertanya lagi bu?
Silahkan anakku!
Jika kita bersimpati seperti kata ibu, apakah cinta itu bu?
Cinta, jika kau berkeinginan membuat perahu, apa akan yang kau lakukan anakku?
Tentu aku akan memilih kayu yang terbaik untuk dasarnya, ukiran dan warna pelagi di dinding-dindingnya, serta dayung yang kuat dan kokoh untuk berlayar. Itu akan aku wujudkan dengan waktu yang cukup lama tentunya bu.
Iya anakku, begitulah cinta, ketika kau jatuh cinta, jadilah seperti kau membuat perahu. Bukan semudah perahu kertas yang akan kau tenggelamkan. Semakin indah perahumu, semakin jauh pengembaraanmu dan semakin luas pula simpatimu terhadap genangan air di dunia ini.
Setiap kita dilahirkan dengan air mata, itu tandanya sejak lahir kita telah tenggelam dalam senyum disekitar kita; kami bahagia, terseyum saat kau menangis, dan aku akan tersenyum ketika akan meninggalkanmu, meskipun kau menangis. Petiklah nilai, usaha dan kegigihan bukan hasil atau pemberian. Petik itu seperti ketika kau belajar berjalan, kau jatuh tidak dua atau sepuluh, tetapi lebih. Lihat, sampai akhirnya kau tersenyum saat berlari, walaupun kau mengis ketika terjatuh. Sakit, perih atau luka itu bagian dari perjuangan, maka kau akan memetiknya saat kau mampu terbang dan memulai satu bahtera baru dalam taman dan senjamu.
Jika kau ingin memetik, jangan petik bunganya. Tetapi petiklah akarnya juga. Jika kau mencintainya, jangan cintai fisiknya semata. Tetapi cintailah ia apa adanya. Caranya; kau tutup matamu, sebut namanya, maka ia akan hadir, persis seperti aku merindukanmu. Kita sama anakku, hanya aku ibu dan kamu anak; aku bersimpati kepadamu seperti kau bersimpati pada gadismu, dunia ini tak mutlak segaris lurus, hanya kau akan mengetahuinya setelah kau ikut merasakan sebelum maupun sesudahnya.
Apakah kau sudah memetiknya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar