Bulan Tidak Harus Malam.
Apa lagi yang kita bincangkan.
Pada akhirnya ; aku dan kau akan saling melupakan. Bahkan tak lagi mengenal apa dan siapa. Bukankah begitu?
Kiranya
aku menaruh mimpi yang salah, salah untuk digenggam. Setidaknya aku
menang atas apa yang tak bisa kerungkuh, aku memenangkan hatimu agar tak merasakan lagi yang namanya kerinduan. Tapi aku bukan pecundang yang harus berdiam.
Ini kali kau tersenyum dan tak bisa berkata-apa-apa selain "gila" ya, kau pikir ini sudah selesai?
Belum, ini belum berakhir, sampai kita tak lagi bisa mengatakan dunia masih utuh.
Sengaja atau tidak, ego atau kehendak, bukankah itu sama saja?
Setidaknya kau berhasil untuk tidak merindukan ku lagi, karena itu cukup sederhana untuk memulai garis merah sebenarnya.
Jujur, aku mulai kehilangan kosa kata, itu karena aku juga sudah tak merasakan apa-apa lagi.
Sama, rasa itu kita kubur dan tak perlu digali. Bisakah kau tersenyum sekali lagi?
Sekadar
menyapa bathin yang sedikit tersisih dari tempat-tempat sebenarnya.
Jikapun tak tersenyum tak apalah. Sebab, perkenalan, pertemuan,
kerinduan, dan kepergian adalah jalan tipis antara aku, kau, dia dan
mereka. satu, dua, tiga, empat, lima, enam. ya, enam pasang mata kini
hanya berpapasan dengan dua bola mata saja. kita, mereka sudah tak
setaman bias rindang pohon kemarin. Hampir genap setahun usiamu di bulan
kelima berikutnya saat kau tahu aku, ya tahu kau dan kerabat wanitamu.
ah, tulisan ini kiranya tak bearti apa-apa. Hanya mengingatkan kenangan tak sebegitu berharga, bukankah begitu?
Ya,
sekian pasang mata itu tak ada yang sejalan lagi, baik mataku, matanya,
mata kita semua. Bukankah baik sekedar menyapa? Hanya menanyakan, kau
apa kabar? tak perlulah, jawab saja dihatimu. Mungkin kata-kata didunia
ini tak berguna lagi, sebab semua orang sibuk membungkus dan menaruhnya
dikertas, ya tinggal menunggu kata-kata itu tak lagi dipakai. Sampai
semua orang kehilangan dan tak menemukannya. Sayang, meskipun tak
bermakna, aku masih menyimpannya, ya tiga kata yang tak harus dijawab
sampai kapanpun. Bahkan sampai ketika waktu memburu dan memisahkan
cermin dari bayangannya. kata itu masih sama seperti pertama kali kau
temukan, sampai kau lupa, apa kata itu?
Sederhana sekali, kata dimana aku tak lagi tahu bagaimana cara untuk tidak merindukannya.
Tak usah terlalu diambil hati, toh hanya aku. Mereka bilang ia ada karena terbiasa. Sayang itu bukan aku.
Apa perlu emas itu digali?
Sampai
kau tidak menemukan hari, sampai disitu pula aku mengenagnya, sampai
tak ada yang perduli bahwa kata itu memang harus dikebumikan. Kita harap
ini tak perlukan?
Apakah kau mau mendefenisikannya?
Izinkan aku
menaruh mawar merah di genggam tanganmu. Tidak kali ini, tapi nanti,
saat takdir tak menjawab apa-apa untuk ceritaku.
Boleh aku berikan tiga kata itu kembali?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar