Apakah boleh aku menulis bulir-bulir angin ini Sri?
hanya beberapa bulir saja !
"Tentu boleh Awang, silahkan !"
Terakhir kali waktu itu hari Sabtu, sama seperti hari ini
hanya tanggal dan tahun yang berbeda, tapi jujur, udaranya sama persis dengan kemarin.
Kau masih ingat Sri?
Memandangmu sedikit lama mungkin tak apalah. Tapi, apakah kau masih mengingatku?
Ah, tak begitu penting menyelaraskan seperti apa aku dan kamu. Setidaknya sekelebat cinta kelas rendah, mampu mengerutkan bibir-bibir kecilku.
Kau masih ingat dengan sekawanan hawa itu? Betul, tak satu diantara mereka mampu menyanjung keperkasaan seekor elang, hmm. Tapi, dari mana kau tahu sayap-sayap yang mulai kering?
Apakah kau menguntil ku?
Sebenarnya, lama tulisan ini tertunda tertuang Sri, tepat saat terakhir kau bilang "Ntar kamu repot sendiri Wang, kasihan si Re, bukankah dia juga mencintaimu?" "mungkin benar apa katamu Sri, tapi aku hanya berbagi kasih sayang, tak lebih" jawabku. "Terserah kau sajalah Wang, wong aku ora kepengen koe keblinger ae yo Wang, kalu apinya membakar dan menghanguskanmu jangan menagis".
Toh,kita hanya memautkan pandangan dan melepaskan yang namanya hasrat, apakah salah jika rasa dan perasaan lain tempat, tapi satu garis lurus dengan cabang yang tak serupa? Kupikir, dewa amor sengaja bermain panah padaku. Tak apalah Sri. Semua sudah jauh, sampai kita tak lagi saling menemukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar