"Diam itu emas"
"Boleh aku menggambar wajahmu?
Hanya dibagian kiri saat kau tersenyum saja !"
Di kanvasku yang sedikit lusuh dan beberapa bagiannya cukup remuk. Aku kira dengan gambar itu akan memberikan makna di hatiku.
Jika tidak juga tak apa.
Kita sama-sama menyimpan emas, sampai pada waktu yang tak ditentukan. Sampai kita lupa jawaban apa yang seharusnya kita berikan. Baikah itu ? Aku rasa baik !
Sebab ada jawaban yang tak harus diminta !
Seperti saat kita bermimpi tentang kematian, jawaban itu pasti datang tanpa kita minta. Begitupun waktu menggambar wajahmu, bukan melukis !
Sejauh ini kita tak lagi tersenyum, jalan itu jauh berbeda; aku dengan aku, kamu dengan dirimu dan mereka beserta yang lainpun begitu. Kita sama-sama sadar dengan perbedaan, ketertarikan dan lumrah saja tak berterima. Tapi, apakah kau tak merasa letih memendam emas itu sendiri ?
Siapa tahu emas itu jauh lebih berharaga dengan kita bercerita tentang masa !
Kapan ? Suatu saat nanti, ketika aku lupa bagaimana caranya untuk mencintaimu !
Disaat itu mungkin juga aku lupa dengan diriku sendiri.
Baiklah, sekarang kita menitipkan pesan kepada angin !
Baitkan butiran-butiran hatimu, lalu rangkaikan alamat dan tempatnya, sebab angin ditempatku sudah tak dapat dipercaya lagi. Kelak jika kau tersesat karena arah, maka aku siap menjadi penuntun bagimu dan jika arah itu kau temukan, tinggalkanlah aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar