"Merah Putih 1"
Sekali lagi terpejam untuk kesekian waktu
mengabarkan hujan di dalam perahu
sebentar bertanya tiap mengadu
sekiranya bukan laku
Kulipatkan kelana malam
sembari menemati garis bulan
pada sedayung ngilu dupa
duka bertuan lupa !
Kita asyik diam
meneteslah lamun jauh bintang
pada cermin seribu retak tak bergambar
Adakah buah pengasingan dari rindu perantara ?
menyibak bekas lama diantara dada ?
Jawab bertanya, dijawab tak terperi
luka, duka, lupa maha sengsoro !
Nek atine dalem ora kepingit
lali sri, lali urang sliramu.
Kian kau berjawab, kian pula melekat
antara kelopak dan hidung kita bersembunyi
menutupi mulut tanda meronta
Babatkan saja peraduanku
sebak, semak menyumpal keinginan
sing loro ora dadi uwong, sing sugih dadi sedadine raden junjungan kulo sri
Terbitlah pagi, gulung malam secepatnya
tak rela harus bergiat menantang bulan
sebab aku merindu jua.
Tafsir menafsirkan
tartil menjelaskan
surah berganti nada
sedang dalam berjumpa ngungun
kita tanpa pemberi
dan tunduk terpaksa mati !
Tiap pesugihan liar meracau, sembur nafsu tuan
berjanji padamu negeri !
tanah tumpah dadi perkoso.
Tanah yang mulia
emak pertiwi
mbok kartini
teteh tjoet nja' dhien
soko bhineka tunggal ika awakmu
memajang gambar lusuh tak berulang tahun
tanpa nyala lilin dan kue bolu
Hari kita hilang seribu berganti
jalan tempuh nisan batu
kita sudah malas menjumput kertas
menulis sekadar air mata
nian sibuk merenda etalase
lupa tuan, lupa puan kera_jaan tikus !
saban bulan, saban hari mencuci darah
mengupas jamrut tiap pecingan
dan surga maimbau rajo
katuju di ambo, bedo basanak
kito indak saragi.
Yang kau jalan, paksa skenario rupiah
kakek ambil sendal pencuri raja
nenek ambil kakao maling negara
bapak berdasi sembunyi trilyun tak berterali
Perkara jualah denai, angkek kaji sia salah
kok batua pitih maimbau
nek ra eneng duek sungkem lorong ngatus piah
diembat timbangan juga rupanaya !
Jadilah anakku, jadilah bagian dari mereka
kata salam dari saku kiri dua ribu rupiah
sampaikan prasati ini kepanya !
"Dulu sapi kita gemuk makan rumput, sekarang mati dimakan aspal"
"Dulu sawah kita luas tak bertepi, yang sekarang hijau rumput seluasnya,
tanpa kambing dan sapi mereka asyik memukul telur sebesar bola pimpong"
Pakailah gelar kita nak, gelar rakyat sengsara, sebab sedari kecil hingga kini kita berpindah-pindah.
Sekiranya sampai laguku, berikan sila dari panca sila yang kelima.
#malam pengasingan, 20/10/12.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar