Sabtu, 20 Oktober 2012

Kepingan Senja

Sekiranya ada awan di balik hujan, maka izinkan aku menyibak tetesanya dan ku gantungkan pelangi di kedua bola matamu.

Senja itu akan ku tunggu !

Bukan berharap !

Sekiranya langitku yang tak teduh, maka bintang dan bulan biarlah menepi.

Ya," aku harus menunggu pagi". Menceritakan tentang hari ini kepadanya, bahwa aku pernah menyusun hari untukmu.

Tidak, aku tidak sakit. Cuma membiarkan saja angin meniup sisa-sisa luka ini.

Seperti cita-cita di langit tinggi, kita harus menggapainya. Jatuh sekali atau dua itu biasa.

Tapi tidak harus kali ini, sebab perahu sudah menunggu untuk mengarungi bahtera selanjutnya.

Yang jadi tanya itu, apakah engkau bersedia mengaruhinya bersamaku ?

Aku butuh satu kepastian, tidak dua atau tiga. "saya rasa jawaban itu seharusnya tidak ! "


Sampai detik ini ! kita masih menyimpan rindu yang entah bertuju pada siapa ?

Kau tidak perlu peduli, aku bukan pengemis !

Kau tidak harus tahu, perih ini cukup sederhana kok !

Kau boleh menyimpan dendam itu, sayang aku tak butuh masalalumu. Yang penting esok atau lusa biarkan saja.

Biarkan aku yang merendanya "tangan dan jemariku masih sanggup mengisi ruas-ruas tanganmu".


Sekarang beginilah ; kau tutup saja senja di muara itu, berikan sedikit warna ungu, atau tetaskan merah di gelinangannya. Tapi jangan beri warna biru, sebab aku tak mau merindu lagi.

Tidak, saya bukan memaksa anda ikut bercerita, hanya melihat saja. Yah lihat saja saya di kejauhan, sebab di sana kami tak seperti kamu. Di sana tangan akan menyambutmu dan suguhan jujur siap menela'ah bisumu. Apakah kau mulai mengerti ?


Sepanjang kali lebar ini akan bertanya ke padamu, mereka akan meleburkan ini dan menjadikan kenangan di lautan sana. Ya, semua mereka hanya pura-pura tidak tahu saja, sebab mereka tahu aku akan marah jika ditertawakan. Kamu tahu ?


Bukan, ini tak ada sangkutan dengan kemarin, ini bingkisan biasa "isinya hanya tisyu, beberapa lembar kertas dan pena, sayang penghapus saya tak sediakan. di situ juga ada amplop putih" kesedian itu masih bersih tanpa coretan. Ya, sekarang silahkan tulis permintaan dan anggapan mu tentang apa saja disana, terserah itu apa, ya silahkan tulis saja ! kami tidak akan mengusik atau mendikte pemikiranmu. Jangan lupa tulis alamatmu, sebab pos sekarang lama sampainya, lagian alamat palsupun akan di antar.


Setelah itu selesai, berikan saja pada siapaun yang lewat nanti, mereka tahu jalan ke kantor pos terdekat. Kamu duduk manis saja disana, aku ?

aku tidak kemana-kemana, aku ada di alamat yang kau terakan diamplop tadi.

Nah, setelah lepas permintaan dan anggapanmu itu, kau ambil amplop merah muda yang ada di bawah taplak mejamu, iya itu !

Sebelum kau baca, ambillah tissyu itu. Dari aku ? Bukan, itu bukan aku yang menulis, hanya isinya saja ada hidupku. Jika kau merasa tak sanggup, kau boleh membacakannya pada pelayan cafe itu, tidak. Bosnya takkan marah !


Nah, sekarang kita sama-sama mengerti. Aku memaklumi senyummu, aku menyimpan tatapanmu. Tatapan itu masih utuh, liahat saja pagi nanti, apabila burung bernyanyi dan kupu-kupu sibuk di taman, berarti itulah tatapanmu untuku. Aku ?

Tak ada yang istimewa dariku, untukmu juga tak ada yang spesial dari jemariku. Aku sama seperti yang lain !

Kepunyaanku kan kau telah sita !

Iya, hari-hariku, pikiranku dan semua kamuflase ini.


Itu bukan kemauanku, bukan juga jalan pikiran ini. Itu adalah gerak hati kecilku, aku membiarkannya mekar dan tumbuh lama. Yang lain ?

Maaf, saya tak bersedia mengusik pintu itu, ruangan itu milikmu, tanpa kau minta ia sudah terisi begitu saja.


Ya, senja itu aku, aku yang melukisnya.


Tenang saja, aku tak menaruh apa-apa padamu. Hanya ingin kau melihatnya, setelah hujan reda lihatlah !

Sekiranya kaki langit memberi warna untukmu, berarti aku turut berhagia juga. Atau kau merasa jemu menantinya, aku juga pasti resah menurunkanya, sebab terkadang pelangi itu berat untuk di keluarkan.

Tersenyumlah sekali lagi, biarkan saja air di matamu larut dengan nyanyian senja ini. Iya, lepaskanlah berat pundakmu. Ini kali ku izinkan kau bersandar sekali saja ! Bukanya tak mau, saya yakin pangeranmu sebentar lagi turun setelah senja ini. Jadi berdiri dan bergegaslah segera. Aku janganlah kau pikirkan, itu biasa kok.


Seandainya tidurmu tak nyenyak, jangan salahkan aku ya !

Aku mampir karena sesuatu hal, aku juga yakin kau mengerti. Jawaban itu takkan kuminta kok. Simpan saja untuk cerita selanjutnya.

Kan sudah jelas, aku tak mau mereferensinya lagi. Kalau tak puas, balas saja amplop itu, lalu titipkan ke muara di dekatmu, mudah-mudahan lambat laun sampai juga padaku.


Kelak jika kita sudah merenda hidup, akan kukenalkan engkau pada anak dan istriku. Pastilah, akan kuceritakan tentang ini pada mereka. "Dulu ayah pernah berlayar di sebalik pulau sana nak, seorang putri yang teramat baik mengajarkan ayah tentang kesabaran melaut, ia tahu persis cuaca di langit ayah, tapi jangan bilang ibu ya ! Putri duyung itu pasti senang bertemu denganmu"


Kau jangan menangis, kita punya surat  masing-masing dari Tuhan. Jika ada namaku di suratmu, perjelaslah. Sebab di suratku namau terlalu banyak, sampai bosan kadang tinta itu menulisnya, sampai aku lupa bagaimana cara menulis namamu disini. Jika namaku hanya sekadarku bias senja, hapus sajalah !


Aku tak mau meminta, mengharap dan memujamu. Karena tak pantas rasanya menenggelamkan aku terlalu dalam. wajar saja ! Bidadari sepertimu barang tentulah bersanding dengan pangeran yang sempurna, bukan aku yang jauh dari penilain sebenarnya. Bukan merendah, tapi memang kenyataannya seorang aku pantasnya bersanding dengan manusia biasa saja.


Walau bagaimanapun itu, aku harus bangun dan tersenyum, sebab aku sadar telah lancang memasuki istanamu. Coba kau tak buka gerbang itu, barang pastilah jalan ke rumah aku tahu. Tapi mengapa coba ?

 

Aku patut bersyukur telah mengenalmu, berbincang dan bertukar cerita. Biarlah cerita ini terbungkus rapi di khasanah sederhana dadaku. Kalau kau berkesan itu wajar. Seorang pejantan lahir sebagai pemburu, dan sang betina adalah buruan. Betinapun sebenarnya lebih senang berburu, tapi sayang naluri itu ada padaku. Memburumu aku tak punya kekuatan lebih untuk mengatakan "aku sayang padamu", maka tak ada kata yang lebih pantas untuk menungkapkan kata itu selain dari tersenyum dan membalikkan cermin, agar kau tak melihata air juga menetes di pipiku.


Memang aku yang berdosa, aku terlalu jauh bermimpi sampai akhirnya bertemu denganmu. Bagaimana bisa melupakan, kau itu menyatu dan menyalin ragaku, hendak melupakan berarti merusak ragaku. Maka kubiarkanlah ia tumbuh dan berkembang. Bagiku itulah kekuatan sampai saat ini, sampai aku bisa menulis dan menyampaikannya pada semua jendela ini.


Aku telah terjaga, maka aku berani menyampaikan ini !









#Elang Hitam,

Untuk yang terkasih (M_Z)

kira-kira ; 15.00-17.00 wib, 15-10-12 / Tapsu ! (-14/01)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar